• Visitor

  • INFORMASI

  • Pilihanku

  • Bidang PORA

  • Arsip

  • KONTAK

  • Link

  • KEMENDIKBUD

  • BKN

  • BSNP

  • JARDIKNAS

  • NPSN

  • NISN

  • NUPTK

  • PUSAT KURIKULUM

  • LITBANG KEMDIKBUD

  • PAUDNI

  • BPSDPPMP

  • INFO SERGU 2013

  • IFORMASI BOS

Penggunaan Dana BOS

Pengantar

Penggunaan Dana BOS menurut Juknis BOS 2013 dapat digunakan untuk 13 Jenis Komponen, yaitu: Baca lebih lanjut

Iklan

Info Progres Penyaluran Dana BOS

Progres Penyaluran Dana BOS
Triwulan I (Januari-Maret) Tahun 2013

Posisi Tanggal: 11 Februari 2013

  1. Dana Disalurkan oleh Kas Negara ke Kas Daerah Provinsi: 14 Januari 2013
  2. Jumlah provinsi yang sudah menyalurkan dana ke sekolah: 29 provinsi
  3. Jumlah Provinsi yang belum menyalurkan dana: 4 provinsi
  4. Total Dana yang telah tersalurkan : Rp. 5,000,977,926,500
  5. Persentase dana yang telah tersalurkan berdasarkan SP2D: 86.71 %
  6. Persentase dana yang telah tersalurkan berdasar data yang dikirim oleh bank: 74.26%
  7. Provinsi yang BELUM menyalurkan dana BOS: Aceh, Maluku Utara, Papua dan Sumatera Utara.

Sumber : http://bos.kemdikbud.go.id/home/berita/48

Juknis Penyelenggaraan Program PAUD, Nonformal dan Informal

Sebagai pedoman dalam menyelenggarakan Program Paud nonformal dan informal disini saya posting materi pedoman yang dapat digunakan sahabat pendidik, lebih jelasnya silahkan download berikut dibawah ini :

PEDOMAN PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI 2012

1. Juknis Penyelenggaraan Kelompok Bermain

2. Juknis Penyelenggaraan PAUD Bina Iman Anak

3. Juknis Penyelenggaraan PAUD Pelayanan Anak Agama Kristen

4. Juknis Penyelenggaraan PAUD TP Alquran

5. Juknis Penyelenggaraan Pos PAUD

6. Juknis Penyelenggaraan Taman Kanak kanak

7. Juknis Penyelenggaraan Tempat Penitipan Anak

Isi Buku Kelas 1 SD Kurikulum 2013 Didominasi Gambar

Isi Buku Kelas 1 SD Kurikulum 2013 Didominasi Gambar
 

Jakarta—Isi buku kelas 1 sekolah dasar (SD) di kurikulum 2013 didominasi gambar. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menyampaikan, peserta didik kelas 1 SD belum saatnya membaca dan terutama menulis. Oleh karena itu, kata dia, isi bukunya lebih banyak gambarnya.

“Ini contoh-contohnya, bagus gambarnya warna-warni, dan anak langsung kerjakan di sini,” kata Mendikbud saat memberikan keterangan pers usai penutupan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan di Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan, Depok, Jawa Barat, Selasa(12/2/2013).

Mendikbud menyampaikan, untuk materi tematik integratif maka dalam satu tema terdapat berbagai substansi mata pelajaran seperti bahasa Indonesia, matematika, dan pendidikan kewarganegaraan. “Ini tema ‘diriku jujur tertib dan bersih’. Ini juga contoh lain ‘lingkungan bersih indah dan asri’,” katanya sambil memperlihatkan beberapa buku kepada awak media.

Jumlah buku untuk kelas 1 SD sebanyak delapan tema, sedangkan buku kelas 4 SD sebanyak sembilan tema, ditambah enam buku agama. Satu tema akan diajarkan selama empat minggu

Peserta didik, kata Mendikbud, sudah diperkenalkan terhadap angka dan huruf. “Mereka memang baru belajar membaca dan menulis. Ini adalah contoh-contoh buku yang sudah kita siapkan,” ujarnya

Pada buku tersebut juga ada penokohan nama yang merepresentasikan daerah asal mereka. Mendikbud mencontohkan, nama Siti mewakili dari Jawa, Beni (Sumatera, Batak), Lina (Menado), Udin (Sunda, Jawa), Dayu (Bali), dan Edo (Papua). “Wajahnya beda-beda. Artinya, dari awal yang ingin kita bangun representasi dari Indonesia. Nama agama pun juga ada di sini,” katanya.

Mendikbud menambahkan, materi kesenian pun juga sudah ada di buku ini. Ada pelajaran ‘ayo menyanyi’, untuk materi kebersihan juga sudah diperkenalkan sikat gigi dan seterusnya. “Tempat ibadah pun juga kita perkenalkan semuanya, seperti masjid, gereja, pura, dan kelenteng. Tapi ini bukan pelajaran agama. Pelajaran agama ada tersendiri. Ini pelajaran nonagama,” katanya.

Sesuai rencana, buku yang akan digunakan sebagai bahan pelatihan guru ini akan selesai pada akhir bulan ini. “Insya Allah akhir Februari bisa dirampungkan,” kata Menteri Nuh. (ASW)

Sumber : http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/1060

Mendikbud: PAUD Bukan Tempat Belajar Calistung

Mendikbud: PAUD Bukan Tempat Belajar Calistung

DEPOK. Sekali lagi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menegaskan sekolah dasar (SD) tidak boleh memberikan tes baca tulis hitung (calistung) kepada calon murid. Pendidikan anak usia dini (PAUD) bukanlah tempat bagi anak untuk belajar calistung

Hal itu Mendikbud sampaikan pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) di Depok, Senin (11/1).

Nuh mengatakan, mengajarkan calistung adalah kewajiban SD, bukan PAUD. Oleh karena itu, anak yang akan masuk sekolah tidak boleh dituntut sudah menguasai calistung.

“Bila sekolah dasar memberikan tes calistung kepada calon murid, maka anak-anak akan diajari calistung sejak taman kanak-kanak (TK). Jika di TK anak sudah diajari calistung, maka sejak masuk PAUD ia sudah diperkenalkan huruf. Jangan-jangan semenjak di dalam kandungan sudah diminta belajar,” kata Nuh melontarkan canda sembari menggambarkan bahwa tuntutan yang berat kepada anak usia dini akan membuat anak tersebut tertekan.

Masa usia dini, adalah masa anak belajar melalui kegiatan bermain, atau kegiatan yang menyenangkan. Hal ini sering pula diingatkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal, Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog di beberapa kali kesempatan.

Lydia yang juga akrab dikenal sebagai Reni Akbar-Hawadi pernah mengungkapkan bahwa memaksakan anak melakukan sesuatu yang sebenarnya ia belum siap justru akan memberikan pengalaman yang tidak menyenangkan, bahkan akhirnya memunculkan penolakan dari anak.

Meski demikian, mengajarkan calistung kepada anak usia dini boleh saja dilakukan, asalkan anak tersebut memang tertarik dan memiliki kemampuan. Selain itu, metode pengajaran pun tidak boleh meninggalkan prinsip bermain dan menyenangkan.

Akan tetapi, penguasaan calistung seharusnya tidak menjadi fokus pembelajaran, Metode pendekatan di PAUD, kata Reni, tidak hanya didasarkan pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek motorik. Ini karena perkembangan anak usia 0-6 tahun masih terfokus pada aspek motorik, sehingga metode pembelajarannya pun lebih baik menekankan pengembangan soft skill, dan tentunya dengan cara bermain. (Dina Julita/HK)
Sumber : http://www.paudni.kemdikbud.go.id/mendikbud-paud-bukan-tempat-belajar-calistung/